sipil UGM

Mocopat: tembang tradional Jawa penuh makna

WhatsApp Image 2018-03-27 at 5.49.57 PMSejak awal tahun, ada 3 mahasiswa partime di Perpustakaan FT UGM. Tiga mahasiswa ini berasal dari fakultas lain (bukan dari FT). Satu dari Sekolah Vokasi (teknologi jaringan), 1 orang dari Fakultas Geografi, dan terakhir dari Fakultas Ilmu Budaya. Mereka memiliki kemampuan masing-masing.

Ada yang menguasai desain menggunakan Corel Draw, mahir nyinden, serta mahir menulis dan membaca huruf jawa.

Ini perpustakaan. Sekarang, bagaimana memanfaatkan mereka di perpustakaan yang berbau “teknik”?

Selasa (27/3) sore, salah satu dari mereka, Ariani, kami minta menjadi pemantik diskusi tentang budaya jawa, khususnya tembang jawa. Hadir teman-teman mahasiswa dan juga staf perpustakaan.

Ariani belajar Mocopat sejak SD. Bahkan ketika SD sudah ikut perlombaan. Ariani, menyampaikan hal ikhwal Macapat. Ciri-ciri, dan arti dari 11 tembang macapat. Mulai dari Maskumambang yang menggambarkan proses awal manusia, hingga Pocung yang menggambarkan akhir kehidupan manusia. Disela paparan santai itu, kami diskusi. Kami, yang hadir di sore itu, saling memberikan tanggapan tentang budaya jawa. Terkadang kami mengingat lagi, ketika SD belajar Macapat. Satu dua baris, kami masih ingat.

“Saya masih ingat juga beberapa baris mocopat”, kata Mas Randi yang sehari-hari bertugas di MIC FT UGM. Hal serupa juga disampaikan oleh Naili, Mbak Neni dan peserta lainnya. Pada sore itu, Mas Bagus juga bercerita tentang kemampuan ayahnya nembang Jawa. “Saya ingin belajar, Mas. Bapak saya mengatakan, kalau ingin belajar nembang jawa ya harus bergaul dengan orang yang menembang Jawa,”. Bagus melanjutkan, bahwa ayahnya juga seorang muadzin yang memiliki cengkok khas Jawa.

Menjelang akhir acara, kami, satu per satu nembang. Ya, sebisanya. Kemudian Ariani, menutup sore itu dengan suara merdunya melantunkan macapat Dhandhanggulo.

****

David  Lankes, seorang ilmuwan Ilmu Perpustakaan mengatakan, “the mission of librarians is to improve society through facilitating knowledge creation in their communities”. Kiranya, kalimat kunci inilah yang kami gunakan di Perpustakaan FT UGM. Membangun pengetahuan-pengetahuan baru, atau memancing pengetahuan yang lama mengendap, agar keluar, kemudian disebarkan lagi. Di Perpustakaan FT UGM, semua ilmu dihargai. Mulai dari filsafat, sosial, budaya dan lainnya. Tentunya termasuk ilmu teknik itu sendiri. Semua punya peminatnya masing-masing.

Slide dari Ariani, dapat diunduh di http://lib.ft.ugm.ac.id/web/download/slide-sinau-tembang-jawa-ariani-puji-astuti/

Trackback from your site.

Leave a comment