Judul : Kami (Bukan) Generasi Bac*t
Pengarang : J.S. Khairen
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2024
Halaman : 263
Kode: 899.2213 Kha k
Reviewer: Isnaini Syamsiati (Pustakawan FT UGM)
Buku ini menceritakan tentang suka duka kehidupan para lulusan sarjana dalam menggapai impiannya di masa depan. Arko, Ogi, Juwisa, Gala, Sania, dan Randi merupakan enam sekawan, saat mereka masih menjadi mahasiswa di sebuah kampus di ibu kota. Sedangkan Puti adalah adik Arko, yang masih mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran.
Arko adalah seorang fotografer yang sudah melanglang buana hingga benua Eropa untuk ikut pameran fotografi di sana. Gala, anak seorang pengusaha, yang berprofesi sebagai arsitek dan juga guru yang mengajari anak-anak sekolah di bidang teknologi komputer. Beda dengan Ogi yang mempunyai hobi nge-game yang pernah bekerja di Silicon Valley, yang akhirnya mendirikan usaha sendiri di bidang jasa konsultan. Sania, lady rocker yang sedang naik daun di blantika musik nasional. Randi yang berprofesi sebagai wartawan, juga model yang kerjanya tidak mengenal batas waktu, hingga membuat Randi terkena radang otak. Dan Juwisa, seorang penyandang disabilitas yang disebabkan karena kecelakaan saat berangkat menuju kampus. Ia bekerja sebagai konsultan pemasaran dan bercita-cita ingin bisa membeli tangan dan kaki palsu agar ia bisa sempurna seperti yang lainnya.
Mantab betul nasib Arko, Gala, Juwisa, Sania, Ogi, dan Randi. Para alumnus mahasiswa yang amburadul ini ternyata berhasil melawan tikus-tikus kehidupan. Namun, tikus-tikus itu nyatanya tidak sepenuhnya hilang. Mereka malah membesar, menyelinap dalam pekerjaan yang menyita waktu, mimpi-mimpi yang terasa makin jauh, dan dilema antara kembali ke kampung atau terus bertarung di kota tanpa tujuan.
Kita sering dipaksa jadi nomor satu. Padahal dunia bukan dirancang sebagai perlombaan, melainkan bagaimana seseorang bisa memainkan perannya dengan baik.
Tulislah mimpi-mimpi yang tidak masuk akal, sampai kau geleng-geleng kepala. Bahkan sampai semesta berbisik, “kalau mimpi anak ini terwujud, apa yang akan terjadi pada dunia, ya?”
Sejauh apa pun kau mengejar kesuksesan, doa orang tua adalah peta untuk pulang.
Manusia memang lemah. Namun, petarung sejati punya dua kekuatan rahasia. Pertama, mampu beradaptasi dalam situasi krisis. Kedua, adalah kebesaran hati.
Mimpi tanpa rencana hanyalah khayalan, dengan rencana ia disebut tujuan. Tujuan tanpa eksekusi adalah halusinasi. Tangkas mengeksekusi ia disebut dedikasi.
Bangunlah kepercayaan orang padamu, seperti air membangun aliran sungai di rimba raya. Meski berliku, namun sampai ke muara, ia membesar di ujung lautan. Bangunlah dengan berbagai cara, lewat karya, hasil pekerjaan, bahkan sesederhana perkataan.
Salah satu pelajaran paling sulit adalah untuk tahu kapan harus berkata cukup.