Segenap staf Perpustakaan FT UGM mengucapkan selamat hari raya idul fitri, 1 Syawal 1439 H/1951 Dal.
Berita
Eduroam (education roaming) adalah layanan nirkabel (WiFi) yang aman, dalam lingkup global bagi komunitas edukasi dan peneliti. Koneksi eduroam memungkinkan sivitas UGM untuk mendapatkan akses Internet yang aman ketika sedang berkunjung ke institusi negara lain yang berpartisipasi dalam eduroam dengan laptop mereka sendiri dan menggunakan akun UGM.
Institusi di Indonesia yang berpartisipasi: ITB dan UII.
Data lengkap: https://www.eduroam.org/where/
Panduan: http://ugm.id/DF
Excessive Downloading atau download berlebihan, baik manual maupun menggunakan alat tidak diperbolehkan. Excessive Downloading ini terkait dengan proses unduh artikel yang dilanggan UGM.
Pada laman ezproxy.ugm.ac.id telah dicantumkan ketentuan tersebut:
Demi kelancaran dan kenyamanan akses, TIDAK DIPERBOLEHKAN menggunakan aplikasi atau ROBOT pengunduh massal dan sejenisnya dalam mengunduh konten database yang dilanggan UGM (contoh IDM, Torrent,dll). Akses melalui SSO/Ezproxy terekam dalam server kami, sehingga apabila terindikasi melakukan pelanggaran ini, maka akun SSO/EZproxy anda akan dinonaktifkan secara permanen tanpa peringatan. Apabila terbukti merugikan sivitas akademika maka kami berhak memberikan rekomendasi sanksi berat melalui pihak-pihak terkait. Terima kasih.
“Move on lah selagi masih muda”
Kamis, (26/4) di ruang ETD Perpustakaan FT UGM diadakan diskusi santai tentang dunia para simbah. Diskusi ini mengahadirkan Feriawan Agung Nugroho, S.Sos. Feri, begitu dia akrab dipanggil, merupakan staf di Panti Wredha Abiyoso sejak 2011. Feri mengabdi sebagai pekerja sosial, merawat para simbah yang menghuni panti.
Feri memulai dengan menyodorkan angka, bahwa ada ribuan simbah yang terlantar di DI. Yogyakarta. Kondisi dan latar belakang mereka beragam. Panti hanya mampu menampung 126 saja. Sangat jauh dari kebutuhan.
Telah diadakan acara Bedah Film pada hari Kamis, 12 April 2018 di Ruang Diskusi lantai 2 Perpustakaan Teknik FT-UGM yang berlangsung dari jam 17.00 WIB dan selesai pada jam 19.30 WIB. Acara ini merupakan acara dari organisasi Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi UGM (HMTG FT-UGM) dan merupakan salah satu program kerja dari Divisi Kerumahtanggaan HMTG FT-UGM. Acara ini bertujuan sebagai wadah mahasiswa untuk bisa rehat sejenak setelah sibuknya UTS dan merupakan sarana pembelajaran bagi mahasiswa. Acara ini membahas tentang suatu film yang ditayangkan, pada hal ini The Wave, yang menceritakan tentang bencana jatuhan massa yang pernah terjadi pada fjord Geiranger di Norwegia tahun 1905 yang menyebabkan bencana susulan berupa tsunami yang menerjang pemukiman masyarakat di sekitarnya. Dalam membedah film ini, didatangkan pembicara yang mempelajari dan memahami tentang fenomena yang terjadi di dalamnya, yaitu Thema Arrisaldi, S.T. yang merupakan alumni Teknik Geologi angkatan 2011 yang juga pernah bekerja sebagai peneliti di Puslitbang Balai Sabo, Kementerian PUPR pada tahun 2017. Ia membahas tentang faktor dan pemicu longsor dan penyebab tsunami yang terjadi di
Norwegia tersebut dengan cara yang santai, namun dapat dipahami. Acara ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan penyerahan sertifikat oleh Ketua Himpunan HMTG FT-UGM, Rifqi Prasanda kepada Thema Arrisaldi, S.T. selaku pembicara.
Kamis (19/4), di perpustakaan FT UGM diselenggarakan sinau aksara jawa. Diampu oleh Ambar Bagianti (mahasiswa Sastra Jawa UGM), dengan peserta dari beberapa departemen di FT UGM, satu dari Geografi, serta satu orang dari ISI Jogjakarta.
Mengawali kelas, Ambar bercerita tentang sejarah Bahasa Jawa. Ketika mendengar aksara Jawa, kebanyakan orang akan mengingat legenda Prabu Ajisaka. Prabu Ajisaka memiliki 4 orang abdi: Dura, Sembada , Duga, dan Prayoga. Semuanya sama-sama kuat, gagah dan pemberani. Mereka juga sangat patuh. Prabu Ajisaka meminta Dora dan Duga untuk membawa keris ke Pegunungan Kendeng. Keris hanya boleh diserahkan kepada Ajisaka. Sedangkan Sembada dan Prayuga diminta untuk menemani Prabu Ajisaka menuju daerah Medang Kamulan. Ajisaka hendak membunuh Prabu Dewata Cengkar yang memiliki sifat layaknya raksasa yang suka memakan daging dan meminum darah manusia. Ketika Prabu Dewata Cengkar sudah dibunuh, Prabu Ajisaka menugaskan Sembada dan Prayuga mengambil keris di Pegunungan Kendeng.
Di Kendeng, Dura dan Sembada kukuh mempertahankan keris, karena hanya boleh diambil oleh Ajisaka. Di sisi lain, Sembada juga kukuh menjalankan perintah Sang Prabu. Maka mereka bertarung sampai mati, sebagai bukti kesetiaanya terhadap Prabu Ajisaka. Mengetahui bahwa empat abdinya meninggal karena sama-sama mengemban amanah darinya, Prabu Ajisaka menyesal. Penyesalan ini dituliskannya dalam bentuk aksara, terbagi dalam empat larik. Bunyinya Hanacaraka Datasawala Padhajayanya Magabatanga. Di kemudian hari, kita sebagai aksara Jawa.
Dari cerita inilah masyarakat luas menganggap bahwa aksara Jawa dibuat oleh Prabu Ajisaka yang digunakan untuk mengenang kesetiaan para abdinya.
Orang Jawa beranggapan bahwa nama Ajisaka bemakna sebagai raja yang bisa menjadi pedoman hidup, memimpin empat sifat lahiriah manusia atau rakyatnya diantaranya: dura : goroh (bohong), duga: pangira-ira (mengira, berwaspada), prayuga: prayogi (pantas, baik), sembada: sarwa kacukupan, sentosa (mampu). Empat nama tersebut sesuai dalam kamus Bausastra Djawa Poerwadarminta. Empat arti tersebut merupakan arti simbolik sifat-sifat dasar manusia. Maka perlulah ini menjadi renungan bahwa manusia butuh sang Maha pemimpin yaitu Tuhan untuk memimpin alur hidup manusia.
Lain halnya dengan penelitian dari W. Van Der Molen yang mengutip penelitian Prof. De Casparis dalam bukunya Indonesian Paleography. Aksara Jawa muncul dalam beberapa tahapan:
- Pallawa (muncul sebelum tahun 700 M), hal ini bermula dari ditemukannya prasasti Yupa di Kutai Kalimantan Timur yang menggunakan aksara Palawa yang mengunakan bahasa Sanskerta dari India Selatan pada abad ke 4 Masehi.
- Kawi tahap Awal (750 M- 925 M), dalam periode ini karya sastra Jawa Kuna masih bercampur dengan bahasa sanskerta , hasil karyanya dalam bentuk kakawin.
- Kawi tahap akhir (950 M- 1225 M), karya sastra dengan tulisan aksara Jawa pada masa ini lebih banyak ditemui di Jawa Tengah.
- Majapahit (1225M-1425 M), karya sastra pada masa ini lebih banyak ditemui di Jawa Timur misalnya di daerah Trowulan. Hasil karyanya dalam bentuk kidung.
- Aksara Jawa Baru (1600- Sekarang)
#####
Setelah menjabarkan sejarah bahasa Jawa, dilanjutkan dengan belajar mengenal aksara Jawa.
Aksara jawa terbagi menjadi beberapa jenis. Mulai dari aksara carakan (nglegena), pasangan (mati), rekan, swara, murda dan pasangan murda, angka, dan juga sandangan.
Setelah dikenalkan dengan aksara dasar carakan, peserta diminta mencoba menuliskan. Abimanyu, dari DTAP ternyata hafal menuliskan aksara carakan + pasangannya. Sementara Tirto, mahasiswa TETI yang dari Kalimantan mampu menuliskan aksara carakan lengkap. Kemudian peserta diajak menuliskan kata atau mana tertentu, untuk mengetahui penempatan huruf per huruf dalam sebuah kata. Sebelum di tutup, Ambar menuliskan kalimat pendek dalam aksara Jawa. Peserta diminta membaca tulisan tersebut. “Raja Hayam Wuruk menanti putri Sunda”, demikian kalimat tersebut berbunyi. (Ambar Bagianti)
“Kejujuran sesungguhnya bukan hal yang istimewa. Dialah yang seharusnya dianggap biasa”

foto: Rizqona
Kabul, dengan segala upayanya berusaha mempertahankan kejujuran, idealismenya di tengah himpilan ke-dalkijo-an orang-orang proyek. Namun akhirnya Kabul tidak kuat dengan Dalkijo dan segenap “turunannya”. Sebagai bagian dari proyek jembatan, sebelum mundur dia memastikan bahwa rangka jembatan yang dia bangun kuat. Ketika sampai pada pembangunan lantai, dia tidak mau kompromi dengan sifat ndalkijo kawan-kawannya. Dia mundur.
Jumat (13/4), di Perpustakaan FT UGM diselenggarakan diskusi tentang beasiswa LPDP. Menghadirkan reviewer LPDP yang juga dosen di DTETI UGM, Ir. Lukito Edi Nugroho, Ph.D.
Dalam rekruitmen beasiswa, khususnya LPDP terkadang ditemukan seorang yang pintar namun tidak lolos. Ada juga sebaliknya, tidak begitu pintar namun lolos. Hal ini disebabkan karena faktor “pintar” secara akademik hanya salah satu saja dari parameter kelulusan memperoleh beasiswa. Apalagi, jumlah beasiswa yang disediakan lebih sedikit dari jumlah yang melamar/membutuhkan.
Bagi mahasiswa, terutama mahasiswa S3, jurnal dan konferensi tentunya akrab di telinga. Ketika meneliti, pasti dilanjutkan dengan publikasi. Jurnal dan konferensi menjadi wadah dari publikasi tersebut.
Namun demikian, ada jurnal dan konferensi yang muncul tidak sebagaimana seharusnya. Jurnal atau konferensi ini, kerap disebut predator atau abal-abal. Namun, ternyata cukup kompleks menelaah sebuah jurnal atau konferensi itu abal-abal atau tidak.
Dari sisi istilah, predator berarti pemangsa. Berarti ada yang dimangsa, dan ada yang merasa dimangsa. Pemangsaan bisa dari sisi uang, atau yang lebih substansial adalah proses peer review yang tidak dilakukan oleh sebuah jurnal. Jurnal predator muncul, bersambungan dengan maraknya gerakan Open Access.

