Berdasar database tugas akhir yang dikelola perpustakaan UGM, Joko Widodo (1681/KT) menulis tugas akhir berjudul “Studi Tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kotamadya Surakarta”, di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Achmad Soemitro, pada tahun 1985. Tugas akhir ini selesai/ditandatangani pada masa dekan dijabat oleh Prof. Dr. Soenardi Prawirohatmodjo.
File lengkap dapat dibaca di Perpustakaan FT UGM. Berikut kami cuplikkan beberapa point penting dari tiap bagian tugas akhir tersebut.
——
Joko Widodo menuliskan beberapa point yang menjadi pendahuluan tugas akhirnya, yaitu:
- Kayu memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Kayu digunakan untuk kayu bakar, mebel, bahan bangunan.
- Khususnya kayu jati punya posisi penting, karena punya warna alami dan kilap yang indah.
- Permintaan kayu jati meningkat, tapi ketersediaan kayu jati semakin langka.
- Industri kayu lapis di Indonesia sudah dijumpai sejak sebelum Perang Dunia II, berupa tripleks sebagai peti teh.
- Industri kayu lapis di Indonesia berkembang mulai 1973. Berkembang pesat sejak adanya SKB 3 Menteri tahun 1980.
- Pada tahun 1973 ada 2 pabrik kayu lapis dengan kapasitas produksi 9000 m3; tahun 1983 (s.d. Agustus) terdapat 69 pabrik dengan kapasitas 3,3 juta m3.
- Setelah ekspor kayu bulat resmi dihentikan (1985), Indonesia berusaha jadi pengekspor kayu lapis. Rencana produksi pada tahun 1985 sebesar 5,4 juta m3. Industri kayu lapis semakin berkembang.
Terdapat 3 pertanyaan penelitian yang diangkat pada penelitian ini, yaitu
- Bagaimana pola konsumsi kayu lapis, khususnya di Kodya Surakarta?
- Peramalan konsumsi kayu lapis di Kodya Surakarta?
Temuan penelitian ini untuk penentuan kebijakan industri kayu lapis.
****
Beberapa point utama pada tinjauan pustaka
- Sumber daya alam hutan menjadi salah satu harapan penunjang pembangunan setelah minyak bumi. Pemerintah memikirkan cara pemanfaatan sumber daya alam hutan dengan baik.
- Pembangunan di bidang kehutanan memiliki 4 tujuan: menyelamatkan hutan tanah dan air, konservasi SDA dan lingkungan hidup, pengusahaan hutan, penetapan areal untuk kepentingan non kehutanan.
- PELITA I dan II, ekspor kayu bulat (terutama Meranti) ke Jepang. Korea Selatan, Taiwan, Hongkong. Di negara ini, nilai kayu menjadi naik. Indonesia mengubah kebijaksanaannya di bidang kehutanan, kayu lapis hendak diproduksi sendiri oleh Indonesia.
- Pada bab ini, peneliti memberikan batasan istilah ‘kayu lapis’.
Selain itu, juga menjabarkan keuntungan kayu lapis dibanding papan kayu gergajian, penggolongan jenis kayu, penggolongan kayu lapis berdasar jumlah lapisannya, perawatan kayu lapis, berbagai penggunaan kayu lapis, syarat mutu kayu lapis.
Bahan penelitian
- Peneliti menggunakan berbagai bahan penelitian, di antaranya: data bangunan rumah di Surakarta yang didirikan 1984; jumlah industri mebel, industri gitar, toko besi, jumlah kepala keluarga tahun 1980-1984, perkembangan pendapatan per kapita tahun 1980-1984
Metode penelitian
- Penelitian hanya terbatas konsumsi kayu lapis pada pemakaian akhir di Kodya Surakarta. Terdiri dari: untuk industri mebel, bangunan rumah tembok, industri gitar, aneka kegunaan lainnya.
- Pada bagian ini, peneliti menjelaskan satu per satu cara memperoleh data. Misalnya untuk data industri gitar, peneliti melakukan contoh acak sederhana (simple random sampling) dan mendatangi pemilik industri gitar yang dijadikan contoh. Kemudian melakukan wawancara terkait konsumsi kayu lapisnya.
Hasil dan analisis
- Saluran distribusi kayu lapis dari produsen ke konsumen dilakukan toko besi sebagai pengecer.
Produsen -> pengecer -> konsumen akhir
Produsen -> pengecer besar -> pengecer kecil -> konsumen akhir - Truk pembawa kayu lapis mendatangi toko besi setiap 7-10 hari.
- Penggunaan kayu lapis di Kodya Surakarta: mebel, bahan bangunan rumah, gitar, begesteng, kerajinan tangan, kotak salon, kandang ayam, dasar lukisan, meja pingpong, papan tulis, kotak kapur.
- Peneliti menjelaskan konsumsi kayu lapis di Kodya Surakarta untuk industri mebel, bangunan rumah tembok, industri gitar, aneka kegunaan lainnya. Dilengkapi dengan data-data dari lapangan, serta pengihitungan berdasar data.
- Kemudian peneliti membuat peramalan konsumsi kayu lapis di Kodya Surakarta. Didasarkan pada pertambahan penduduk (jumlah penduduk dan kepala keluarga tahun 1980-1984) yang secara tak langsung mengakibatkan bertambahnya kebutuhan mebel, rumah, dan lainnya.
- Peneliti menunjukkan laju kenaikan jumlah penduduk, dan jumlah kepala keluarga. Laju kenaikan penduduk tahun 1980-1984 sebesar 1,68%; kenaikan kepala keluarga 1980-1984 sebesar 1,36%.
- Pendapatan per kapita juga dijabarkan pada bab ini, termasuk laju kenaikannya. Rata-rata kenaikan pendapatan per kapita Kodya Surakarta tahun 1980-1984 sebesar 9,195%.
Peramalan jangka pendek:
- Peramalan ini dibagi secara tahunan, selama 5 tahun sejak 1985-1989
- Peramalan dilakukan untuk masing-masing penggunaan kayu lapis (mebel, bangunan rumah tembok, gitar, lainnya).
- Hasilnya, kayu lapis untuk penggunaan mebel: naik; kayu lapis untuk bangunan rumah tembok: turun; kayu lapis untuk gitar: turun; kayu lapis untuk lainnya: naik.
- Namun secara keseluruhan naik. Tahun 1985: 8.447,28 m3; tahun 1989: 12.108,79 m3.
Peramalan jangka panjang:
- Dihitung 5 tahunan, berdasar pendapatan per kapita dan jumlah kepala keluarga. Angka 5 tahunan yang dihitung yaitu tahun 1990, 1995, 2000.
- Hasil peramalan jangka panjang menunjukkan semua penggunaan kayu lapis (untuk mebel, bangunan rumah tembok, gitar, aneka lainnya) menunjukkan kenaikan.
Beberapa kesimpulan:
- Konsumsi kayu lapis untuk industri mebel menempati porsi paling besar. Pada tahun 1980-1984 konsumsi bagian ini mencapai 80,6% dari total konsumsi kayu lapis.
- Konsumsi kayu lapis untuk bangunan rumah tembok dari 1980-1984 mengalami kenaikan dan penurunan. Sebabnya, menurut penulis, dimungkinkan karena pengaruh ekonomi dunia.
- Konsumsi kayu lapis untuk industri gitar di Kotamadya Surakarta mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena permintaan akan gitar mengalami penurunan. Penurunan permintaan gitar disebabkan oleh munculnya gitar impor dari luar negeri.
- Peramalan konsumsi kayu lapis total dalam jangka pendek maupun jangka panjang, menunjukkan kanaikan. Untuk menunjang kenaikan tersebut, diperlukan promosi memopulerkan kayu lapis.
Catatan:
- ringkasan ini hanya mengambil beberapa point saja, tidak menunjukkan secara keseluruhan tugas akhir.
dimungkinkan ada kesalahan pada prosesnya. - jika terdapat kesalahan/kekeliruan, maka data valid ada pada dokumen tugas akhir yang sebenarnya.
diringkas oleh Purwoko (Pustakawan FT UGM) - berdasarkan data yang ada di repository ETD UGM http://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/169352 & file lengkap di dalamnya
- Postingan terkait:
- https://www.instagram.com/p/CjskwA2plvu/
- https://www.instagram.com/p/CjhZ8BOJW56/